Profil Nurussalam

/Profil Nurussalam
Profil Nurussalam 2019-11-23T14:06:47+00:00

Sejarah Pondok

Pondok Pesantren Modern Nurussalam berlokasi di Desa Panggulan Kelurahan Pengasinan Kecamatan Sawangan Kota Depok Provinsi Jawa Barat. Pondok ini berdiri pada tanggal 27 Rabiul Awwal 1436 H bertepatan dengan tanggal 18 Januari 2015 M. Sedangkan awal dimulainya pendidikan pada hari Senin 13 Syawwal 1437 H bertepatan dengan tanggal 18 Juli 2016. Pendiri pesantren ini adalah Buya H. Effendi Muhajir, beliau adalah seorang pengusaha di bidang properti dan pertanahan yang memiliki tujuan untuk mendirikan sebuah pesantren dengan segala aset yang dimilikinya.

Sejarah awal Pesantren Nurusssalam adalah kisah tentang keikhlasan, perjuangan, dedikasi dan kerja keras. Buya H. Effendi Muhajir memulai merintis cita-cita tentang sebuah lembaga pendidikan Islam modern untuk memajukan anak bangsa. Buya H. Effendi Muhajir berkolaborasi bersama beberapa tokoh dan partisipan dari kalangan Kyai dan Habaib. Lalu melibatkan kerabat, para anak dan menantunya untuk mempersiapkan langkah awal Pesantren Nurussalam. Selanjutnya diutuslah beberapa asatidzah dari alumni Pondok Modern Darussalam Gontor untuk bersama-sama melaksanakan kegiatan pendidikan dan pengajaran.

Karakteristik Pondok Pesantren Nurussalam adalah “Berdiri di atas dan untuk Semua Golongan”  yang berarti bahwa pondok ini tidak terikat dengan satu aliran tertentu, atau salah-satu golongan organisasi masyarakat sosial (ormas) tertentu, atau salah-satu partai atau afiliasi politik tertentu. Pondok Pesantren Nurussalam adalah salah satu jenis pondok pesantren yang mengembangkan sistem pendidikan pondok pesantren modern. Para santri selain dididik dan diajarkan ilmu pengetahuan agama, juga dibekali ilmu-ilmu pengetahuan umum yang menggunakan sistem dan kurikulum sekolah, yang lebih penting dari itu adalah penanaman mental, disiplin hidup dan disiplin dalam beribadah. Dengan demikian para santri diharapkan mempunyai wawasan dan pengetahuan yang seimbang antara ilmu islamiyah dan ilmu kauniyah yang didukung dengan penguasaan bahasa Arab dan bahasa Inggris. Pondok Pesantren Nurussalam mengajarkan nilai-nilai keislaman yang santun, moderat, toleran, dan inklusif.

Motto Pondok

1. Berbudi Tinggi

Berbudi tinggi merupakan landasan paling utama yang ditanamkan oleh Pondok ini kepada seluruh santrinya dalam semua tingkatan; dari yang paling rendah sampai yang paling tinggi. Realisasi penanaman motto ini dilakukan melalui seluruh unsur pendidikan yang ada.

2. Berbadan Sehat

Tubuh yang sehat adalah sisi lain yang dianggap penting dalam pendidikan di Pondok ini. Dengan tubuh yang sehat para santri akan dapat melaksanakan tugas hidup dan beribadah dengan sebaik-baiknya. Pemeliharaan kesehatan dilakukan melalui berbagai kegiatan olahraga, dan bahkan ada olahraga rutin yang wajib diikuti oleh seluruh santri sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan.

3. Berpengetahuan Luas

Para santri di Pondok ini dididik melalui proses yang telah dirancang secara sistematik untuk dapat memperluas wawasan dan pengetahuan mereka. Santri tidak hanya diajari pengetahuan, lebih dari itu mereka diajari cara belajar yang dapat digunakan untuk membuka gudang pengetahuan. Kyai sering berpesan bahwa pengetahuan itu luas, tidak terbatas, tetapi tidak boleh terlepas dari berbudi tinggi, sehingga seseorang itu tahu untuk apa ia belajar serta tahu prinsip untuk apa ia manambah ilmu.

4. Berpikiran Bebas

Berpikiran bebas tidaklah berarti bebas sebebas-bebasnya (liberal). Kebebasan di sini tidak boleh menghilangkan prinsip, teristimewa prinsip sebagai muslim mukmin. Justru kebebasan di sini merupakan lambang kematangan dan kedewasaan dari hasil pendidikan yang telah diterangi petunjuk ilahi (hidayatullah). Motto ini ditanamkan sesudah santri memiliki budi tinggi atau budi luhur dan sesudah ia berpengetahuan luas.

Panca Jiwa Pondok

1. Jiwa Keikhlasan

Jiwa ini yakni berarti, berbuat sesuatu bukan karena didorong oleh keinginan untuk mendapatkan keuntungan tertentu. Segala perbuatan dilakukan dengan niat semata-mata untuk ibadah, lillah. Kyai ikhlas medidik dan para pembantu kyai ikhlas dalam membantu menjalankan proses pendidikan serta para santri yang ikhlas dididik. Jiwa ini menciptakan suasana kehidupan pondok yang harmonis antara kyai yang disegani dan santri yang taat, cinta dan penuh hormat. Jiwa ini menjadikan santri senantiasa siap berjuang di jalan Allah, di manapun dan kapanpun

2. Jiwa Kesederhanaan

Kehidupan di pondok diliputi oleh suasana kesederhanaan. Sederhana tidak berarti pasif, tidak juga berarti miskin dan melarat. Justru dalam jiwa kesederhanan itu terdapat nilai-nilai kekuatan, kesanggupan, ketabahan dan penguasaan diri dalam menghadapi perjuangan hidup. Di balik kesederhanaan ini terpancar jiwa besar, berani maju dan pantang mundur dalam segala keadaan. Bahkan di sinilah hidup dan tumbuhnya mental dan karakter yang kuat, yang menjadi syarat bagi perjuangan dalam segala segi kehidupan.

3. Jiwa Berdikari

Berdikari atau kesanggupan menolong diri sendiri merupakan senjata ampuh yang dibekalkan pesantren kepada para santrinya. Berdikari tidak saja berarti bahwa santri sanggup belajar dan berlatih mengurus segala kepentingannya sendiri, tetapi pondok pesantren itu sendiri sebagai lembaga pendidikan juga harus sanggup berdikari sehingga tidak pernah menyandarkan kehidupannya kepada bantuan atau belas kasihan pihak lain. Pondok tidaklah bersifat kaku, sehingga menolak orang-orang yang hendak membantu. Semua pekerjaan yang ada di dalam pondok dikerjakan oleh kyai dan para santrinya sendiri, tidak ada pegawai di dalam pondok.

4. Jiwa Ukhuwah Islamiyah

Kehidupan di pondok pesantren diliputi suasana persaudaraan yang akrab, sehingga segala suka dan duka dirasakan bersama dalam jalinan ukhuwah Islamiyah. Tidak ada dinding yang dapat memisahkan antara mereka. Ukhuwah ini bukan saja selama mereka di Pondok, tetapi juga mempengaruhi ke arah persatuan ummat dalam masyarakat setelah mereka terjun di masyarakat.

5. Jiwa Bebas

Bebas dalam berpikir dan berbuat, bebas dalam menentukan masa depan, bebas dalam memilih jalan hidup, dan bahkan bebas dari berbagai pengaruh negatif dari luar, masyarakat. Jiwa bebas ini akan menjadikan santri berjiwa besar dan optimis dalam menghadapi segala kesulitan. Hanya saja dalam kebebasan ini seringkali ditemukan unsur-unsur negatif, yaitu apabila kebebasan itu disalahgunakan, sehingga terlalu bebas (liberal) dan berakibat hilangnya arah dan tujuan atau prinsip. Sebaliknya, ada pula yang terlalu bebas (untuk tidak mau dipengaruhi), berpegang teguh kepada tradisi yang dianggapnya sendiri telah pernah menguntungkan pada zamannya, sehingga tidak hendak menoleh ke zaman yang telah berubah. Akhirnya dia sudah tidak lagi bebas karena mengikatkan diri pada yang diketahui saja.

Maka kebebasan ini harus dikembalikan ke aslinya, yaitu bebas di dalam garis-garis yang positif, dengan penuh tanggungjawab; baik di dalam kehidupan pondok pesantren itu sendiri, maupun dalam kehidupan masyarakat. Jiwa yang meliputi suasana kehidupan Pondok Pesantren itulah yang dibawa oleh santri sebagai bekal utama di dalam kehidupannya di masyarakat. Jiwa ini juga harus dipelihara dan dikembangkan dengan sebaik-baiknya

Struktur Organisasi Pesantren

STRUKTUR ORGANISASI PONDOK PESANTREN MODERN NURUSSALAM
TAHUN 2019

Pimpinan Pesantren   : Buya H. Effendi Muhajir

Pengasuhan Putra       : Farid Misbahul Fikri, S.Pd

Pengasuhan Putri        : Rifda Haniefa, M.Pd

Kurikulum                     : Ela Amalia, S.P ; Ilham Fichri Abdullah, S.T

Kepala SMP                  : Nursehat, S.Pd

Kepala SMA                  : Mohd. Zhahiral Islami, M.Pd

Humas                           : Robiyatul Adawiyah, S.H.I

Sarana Prasarana        : Eka Adhi Prasetya, S.Pd